Takeshi Niinami diangkat jadi CEO Suntory Holdings pada Oktober 2015. Ia punya pekerjaan besar pimpin perusahaan minuman Jepang, yang telah berdiri 115 tahun ini. Niinami jadi anggota non-keluarga pertama yang ambil kendali perusahaan dalam riwayat. Diluar itu, ia akan pimpin usaha di AS, Beam. Berarti, ia mendapatkan pekerjaan menjadikan satu dua perusahaan serta budaya yang benar-benar berlainan, seperti narasi di film “Lost in Translation”.

Film ini bercerita dimana sepasang orang Amerika (dimainkan oleh Bill Murray serta Scarlett Johansson) mengawali pertemanan sesudah mereka terisolasi di Tokyo, Jepang. Ada ketimpangan budaya yang besar sekali,” kata Niinami, dikutip dari CNBC, Kamis (26/12/2019).

Niinami mencatat ketidaksamaan menonjol di antara kebijaksanaan usaha ke-2 perusahaan itu. Beam suka pada segala hal yang sederhana, sesaat Suntory lebih senang ambiguitas. “Saya coba memberikan keyakinan beberapa orang di Jepang untuk berlaku tegas, untuk berkomunikasi dengan beberapa orang Beam. Untuk menegaskan apa mereka sepakat ataukah tidak,” tuturnya.

Baca juga : Kepuasaan Dalam Menggunakan Feature Baru Aplikasi WhatsApp

Pendekatan yang bertentangan itu tipikal dari ketidaksamaan budaya di Jepang serta Barat. Contohnya, Barat lebih mengisyaratkan kesepakatan, sesaat Jepang lebih senang basa-basi terlebih dulu. Mereka menggambarkan warisan semasing perusahaan jadi perusahaan swasta serta publik. Beam, jadi perusahaan publik, sudah lama terikat dengan tuntutan pemegang saham, serta karena itu dipakai untuk memberi kepastian dalam perbuatannya. Di lain sisi, Suntory, satu perusahaan yang diurus keluarga, tidak pernah mengerjakannya.

Untuk mengakhiri benturan, Niinami membangun Suntory University yang sangat mungkin kedua pihak untuk bergabung serta share makin banyak mengenai semangat pendiri perusahaan mereka. “Pertemuan ini menangani banyak kesusahan sebab ini tersangkut laba perusahaan,” tuturnya.

Peluncuran ini memakai taktik kepemimpinan Niinami yang lebih luas. Ia merencanakan untuk jadikan Suntory nama global, tumbuh di AS, sesaat membidik pasar baru di India serta Cina. Karena itu, ia saat ini sedang meningkatkan team pemimpin hari esok yang bisa kerja dengan internasional di beberapa budaya serta pasar. Untuk dipuji tinggi sekali di tiap pojok dunia, kita memerlukan makin banyak pemimpin,” kata Niinami. “Serta saya ingin tinggalkan kesan-kesan jika Suntory ialah perusahaan yang pas untuk membuat kepemimpinan global yang baik,” sambungnya.